Buku Harian Arilela: permainan tradisional jawa tengah
Facebook Ariela »

Senin, 07 Januari 2013

permainan tradisional jawa tengah

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Permainan-permainan tradisional memiliki nilai positif, misalnya anak menjadi banyak bergerak sehingga terhindar dari masalah obesitas anak. Sosialisasi mereka dengan orang lain akan semakin baik karena dalam permainan dimainkan oleh minimal 2 anak. Selain itu, dalam permainan berkelompok mereka juga harus menentukan strategi, berkomunikasi dan bekerja sama dengan anggota tim. Kendalanya adalah terbatasnya lapangan di kota-kota besar, sementara banyak permainan yang memerlukan arena yang luas. Kendala besar lainnya adalah karena larangan dari orang tua. Mereka takut anak-anak mereka terluka, kotor atau kulit anak menjadi terbakar karena bermain di lapangan terbuka. Hasilnya, banyak orang tua yang memberikan mainan elektronik yang disukai anak. Padahal permainan tradisional merupakan jenis permainan yang mengandung nilai-nilai budaya pada hakikatnya merupakan warisan leluhur yang harus dilestarikan keberadaannya. Seperti permainan tradisional dari Jawa Tengah. Jawa Tengah adalah daerah yang sangat terkenal dengan seni dan budayanya. Beragam permainan tradisional dan banyak yang ada di daerah Jawa Tengah yang biasa dimainkan oleh anak-anak maupun kalangan dewasa. Berikut 3 permainan Tradisonal Jawa Tengah yang akan penulis bahas. B. Tujuan Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah: a. Melestarikan permainan tradisional sebagai ciri khas bangsa Indonesia. b. Memperkenalkan permainan tradisional Indonesia terutama ke masyarakat Indonesia sendiri yang tidak kenal dengan permaina tradisional tersebut. c. Memberikan pengertian kepada orang tua-orang tua bahwa anak tersebut membutuhkan yang namanya permainan agar tidak setres d. Mengajarkan anak-anak Indonesia berfikir kreatif dengan apa yang ada di sekitarnya sehingga diharapkan kelak anak-anak tersebut menjadi manusia dewasa yang kreati dalam hal yang positif). C.Rumusan Masalah Sesuai dengan pendahuluan di atas maka dapat di simpulkan masalah sebagai berikut : 1.Bagaimana cara untuk memperkenalkan macam-macam permainan tradisional terutama Jawa Tengah 2.Bagaimana cara melestarikan permainan tradisonal tersebut 3.Bagaimana cara untuk meningkatkan kesukaannya pada permainan tradisional terutama permainan dari jawa tengah BAB II PEMBAHASAN A.Cublak cublak suweng a.Sejarah permainan cublak cublak suweng Kata “cublak” adalah sebuah kata kebiasan atau idium yang digunakan untuk sebuah permainan saling tebak, sedang kata suweng artinya adalah hiasan telinga (bukan anting anting atau giwang)(ayo lah) bermain tebak tebakan (sebuah) informasi yang sangat penting. Cublak cublak suweng berasal dari Jawa Tengah . Permainan ini diciptakan oleh salah seorang wali songo yaitu Syekh Maulana Ainul Yakin atau yang biasa dikenal dengan Sunan Giri. Sunan giri menyebarkan agama islam di Indonesia khususnya pulau jawa dengan jalur kebudayaan. Maka ia menghadirkan syair cublak-cublak suweng ini yang akhirnya di jadikan permainan dikalangan anak-anak. b.Tujuan permainan cublak cublak suweng Permainan Cublak – cublak suweng ini dimainkan bertujuan untuk melatih daya tangkap dan daya tebak yang disertai dengan lagu agar memperoleh kesenangan dalam bermain dan memupuk sikap kerja sama serta rasa bersosialisasi, kemudian Anak belajar menyanyi, mencocokkan ritme lagu dengan gerakan tangan, mengenal bahasa Jawa, melatih motorik halus, dan belajar mengikuti aturan. c.Bentuk permainan cublak cublak suweng Permainan cublak cublak suweng ini dimainkan secara individual dalam satu kelompok oleh anak-anak, remaja putra-putri dan biasanya di mainkan di halaman atau dalam ruangan. d.Jumlah permainan cublak cublak suweng Permainan ini dimainkan oleh beberapa anak/orang, tetapi minimal tiga orang. Akan tetapi lebih baik antara 6 sampai delapan orang. Dengan umur berkisar 6-14 tahun. Bagi yang masih berumur 6 – 9 tahu adalah masih belajar, sedangkan bagi yang berumur 10 – 14 tahun adalah melatih adik-adiknya yang masih kecil, dengan menggunakan Satu buah biji-bijian/ kerikil yang bisa digenggam. e.Tata cara bermain permainan cublak cublak suweng •Gambreng dan yang kalah menjadi Pak Empo. •Dia berbaring telungkup di tengah, anak-anak lain duduk melingkar. •Buka telapak tangan menghadap ke atas dan letakkan di punggung Pak Empo. •Salah satu anak memegang biji/ kerikil dan dipindah dari telapak tangan satu ke telapak tangan lainnya diiringi lagu Cublak-Cublek Suweng. “Cublak cublek suweng, suwenge ting gelenter, mambu ketundung gudel. Pak empo lirak-lirik, sapa mau sing delekke. Sir sir pong dele gosong, sir sir pong dele gosong”. •Pada kalimat ”Sapa mau sing delekke” serahkan biji/ kerikil ke tangan seorang anak untuk disembunyikan dalam genggaman. •Di akhir lagu, semua anak menggenggam kedua tangan masing-masing, pura-pura menyembunyikan kerikil, sambil menggerak-gerakkan tangan. •Pak Empo bangun dan menebak di tangan siapa biji/ kerikil disembunyikan. •Bila tebakannya benar, anak yang menggenggam biji/ kerikil gantian menjadi Pak Empo. •Bila salah, Pak Empo kembali ke posisi semula dan permainan diulang lagi. f.Kemampuan yang dikembangkan -Moral dan Nilai-nilai agama : Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, menghargai teman dan sabar menunggu giliran -Sosial Emosional : mengerti aturan main, memperoleh kesenangan dalam bermain, memupuk sikap kerjasama serta rasa sosialisi dan sabar menunggu giliran. -Bahasa : mengenal kosakata baru, mengenal lingkaran -Seni : bernyanyi B.Jamuran a.Sejarah permainan jamuran Bagi anak-anak perempuan masyarakat Jawa Tengah ( Yoyakarta) yang hidup di sekitar tahun 1960-hingga 1970-an tentu tidak asing lagi dengan dolanan anak yang disebut Jamuran. Ketika televisi belum menjamur seperti sekarang, hiburan mereka kebanyakan adalah bermain di lapangan terbuka. Beraneka ragam dolanan anak mereka mainkan, salah satunya adalah jamuran. Seiring dengan merebaknya hiburan televisi dan lainnya, permainan tradisional jamuran ini sudah jarang lagi dimainkan oleh anak-anak perempuan. Jika masih ada pun hanya sebatas dalam kegiatan festival, workshop, seminar, atau sejenisnya. Dari segi istilah, kiranya nama jamuran diambil dari nama tumbuhan jamur. Jamur yang berbentuk seperti payung bulat itulah yang menjadi inspirasi nama dolanan jamuran. Berarti jamuran adalah sebuah nama dolanan, yang permainannya membentuk lingkaran seperti jamur. Maka anak-anak menyebutnya dengan dolanan jamuran. Biasanya yang memainkan dolanan jamuran ini adalah anak-anak perempuan. Namun tidak menutup kemungkinan juga dimainkan oleh anak-anak laki-laki atau campuran. Sementara umur anak-anak yang bermain dolanan ini setingkat usia TK sampai SD, sekitar 6-13 tahun. Jika ada anak di bawah usia 6 tahun ikut, biasanya dianggap pupuk bawang atau bawang kothong alias dianggap cuma ikut-ikutan, karena dianggap belum paham tentang cara bermain yang sesungguhnya. Dolanan jamuran ini, dulu sering dimainkan di saat waktu senggang di hari libur di saat pagi, sore, atau malam hari ketika bulan purnama. Syair yang di nyanyikan pada waktu permainan jamuran sebagai brikut “jamuran yo ge ge tok,. jamur opoooooooo yo gege tok,.. siro bade jamur opo?” b.Tujuan permainan jamuran Tujuan permainan jamuran itu sebagai berikut: •Melatih seni vokal •Membangun mentalitas •Meningkatkan kecekatan dalam mengambil keputusan •Memberikan hiburan yang menyehatkan lahir dan batin •Melatih motorik kasar dan halus c.Bentuk permainan jamuran Permainan Jamuran dimainkan secara individual dalam satu kelompok oleh anak-anak perempuan saja atau campuran anak laki-laki dan perempuan. Permainan ini tidak membutuhkan peralatan bantu kecuali hanya tanah lapang atau halaman yang cukup luas. Biasanya memakai halaman rumah, halaman sekolah, halaman balai desa, atau di lapangan. d.Jumlah permainan jamuran Dilakukan oleh lebih dari empat orang,.. dengan salah satunya menjadi orang yang “jadi”,.. yaitu orang yang berdiri di tengah yang diharuskan bisa menjawab pertanyaan anak-anak yang mengelilinginya. Idealnya sekitar 10 anak. e.Tata cara bermain permainan jamuran •Sebelum permainan ini dimulai biasanya di awali dengan hompimpah / cap cip cup untuk menentukan siapa menang siapa kalah. •anak-anak yang menang, bergandengan membentuk lingkaran sambil melantunkan syair jamuran. •sementara satu anak yang berdiri di tengah lingkaran yang menandakan bahwa anak itu yang kalah. •tiba pada kalimat 'sira badhe jamur apa?', si anak yang berada di tengah lingkaran lantas berteriak menyebut sebuah gerakan pura-pura yang wajib kami perbuat. •anak-anak lain yang semula bergandengan tangan membentuk lingkaran, kontan berhamburan. Untuk menirukan seperti apa yang di ucapkan si anank yang kalah tadi. f.Kemampuan yang dikembangkan -Moral dan Nilai-nilai agama : berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan bermain, menghargai teman. -Sosial Emosional : dapat menerima resiko jika melakukan kesalahan, dapat meningkatkan kecekatan dalam mengambil keputusan dan dapat bermain dengan senang. -Bahasa : dapat memperkaya kosa kata baru, dapat mengenal bentuk simbol sederhana -Seni : dapat bernyanyi -Fisik : bergaya dengan beberapa variasi CDakon a.Sejarah permainan Dakon Permainan dakon dikenal sebagai permainan tradisional masyarakat Jawa sekalipun permainan ini dikenal juga di daerah lain. Pada masa lalu permainan ini sangat lazim dimainkan oleh anak-anak bahkan remaja wanita. Tidak ada yang tahu mengapa permainan ini identik dengan dunia wanita. Menurut beberapa pendapat karena permainan ini identik atau berhubungan erat dengan manajemen atau pengelolaan keuangan. Pada masa lalu (bahkan hingga kini) kaum hawa disadari atau tidak berperanan penting dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Dakon dianggap menjadi sarana pelatihan terhadap pengelolaan atau manajemen keuangan tersebut. Untuk kaum adam mungkin permainan semacam ini dianggap terlalu feminine, kurang menantang, tidak memerlukan kegiatan otot dan pengerahan tenaga yang lebih banyak. Jadi, barangkali dianggap terlalu lembut. b.Tujuan permainan Dakon Dari permainan Congklak/ dakon ini tujuannya sebagai berikut: * Sarana pelatihan terhadap pengelolaan atau manajemen keuangan. * Melatih untuk terampil dan cermat. * Melatih jiwa sportif, jujur, adil, dan akrab dengan orang lain. c.Bentuk permainan Dakon Permainan Congklak ini tidak memerlukan iringan baik berupa nyanyian maupun suara musik tertentu. Dulu biasanya permainan di lakukan di pendopo, sekarang bisa di teras, beranda rumah, atau bawah pohon. Ada alatnya yang sekarang banyak dijual dalam bahan plastik dan kayu. Lubang dalam Congklak atau Dakon ada 16, masing-masing sisi 6 lubang dan 1 di pojok untuk menampung sisa biji ketika permainan berlangsung. Untuk masing-masing lubang diisi biji-biji sejumlah 8. Jadi total biji yang harus tersedia 6 lubang dikali 8 biji adalah 48. Di kalikan 2 pemain (48 biji x 2 pemain) total 96 biji. d.Jumlah permainan Dakon Jumlah pemain hanya dua orang yang masing-masing bertugas membagi biji-bijian sawo, walau sekarang sudah tidak hanya dari biji sawo. Tapi dibuat bentuk biji-bijian plastik atau bisa juga kerang. e.Tata cara bermain permainan Dakon Beberapa peraturan dalam permainan Congklak ini adalah : * Dalam putaran, setiap lubang harus dimasukkan sebuah biji sampai biji habis. * Pemenang adalah yang mempunyai tabungan biji paling banyak. * Dua pemain duduk berhadapan dengan lubang dakon sudah terisi 8 biji-bijian. Cara menentukan siapa yang akan menjalankan pertama kali yaitu dengan suit jari. * Mulailah dari yang menang suit jari mulai membagikan biji-bijiannya dengan jalan melangkah ke arah kanan sampai akhirnya biji terbagi habis. * Bila biji habis pada suatu lubang yang tidak ada lagi biji-biji yang bisa diambil untuk berputar maka ganti lawannya untuk menjalankan permainan dengan cara yang sama mengambil biji-bijian dalam salah satu lubang diputarkan dengan melewati lubang yang sengaja di kosongkan untuk menampung biji-biji sebagai tabungan atau perolehannya. * Paling beruntung adalah bila biji terakhir habis jatuh pada salah satu lubang rumah sendiri dan didepannya adalah lubang lawan terdapat sekelompok biji-bijian. Nah, biji-bijian di lubang lawan menjadi hak milik. Istilahnya kita nembak atau panen. * Permainan berakhir bila biji-bijian sudah habis dari dua pemain dan tidak ada lagi yang diputar. Kemudian masing-masing tabungan dibuka dan pemenangnya adalah yang biji-bijiannya paling banyak. f.Kemampuan yang dikembangkan -Moral dan Nilai-nilai agama : berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan -Sosial Emosional : dapat memecehkan masalah sendiri, dapat sabar menunggu giliran, dapat bersikap jujur dan adil, senang dalam bermain -Bahasa : mengenal simbol sederhana, berbincang dengan lawan main -Kognitif : mengelompokkan benda yang sama dan sejenis, membedakan besar dan kecil dan mengenal konsep bilangan 1-10 -Fisik : menuang biji-bijian tanpa tumpah melalui koordinasi mata dan tangan. BAB III PENUTUP A.Kesimpulan permainan tradisional merupakan jenis permainan yang mengandung nilai-nilai budaya pada hakikatnya merupakan warisan leluhur yang harus dilestarikan keberadaannya. Seperti permainan tradisional dari Jawa Tengah Jawa Tengah adalah daerah yang sangat terkenal dengan seni dan budayanya. Beragam permainan tradisional dan banyak yang ada di daerah Jawa Tengah yang biasa dimainkan oleh anak-anak maupun kalangan dewasa. Berikut 3 permainan Tradisonal Jawa Tengah sebagai berikut : Cublak-cublak suweng, Jamuran, dan Dakon. Tujuannya untuk melestarikan permainan tradisional sebagai ciri khas bangsa Indonesia,memperkenalkan permainan tradisional Indonesia terutama ke masyarakat Indonesia sendiri yang tidak kenal dengan permaina tradisional tersebut, memberikan pengertian kepada orang tua-orang tua bahwa anak tersebut membutuhkan yang namanya permainan agar tidak setres dan mengajarkan anak-anak Indonesia berfikir kreatif dengan apa yang ada di sekitarnya sehingga diharapkan kelak anak-anak tersebut menjadi manusia dewasa yang kreati (dalam hal yang positif). B.Saran Kita sebagai generasi muda sebaiknya melestarikan permainan-permainan tradisional yang merupakan aset budaya di Indonesia. Agar permainan tradisional tersebut tidak punah dan agar permainan ini akan terus berkembang dan dilestarikan untuk generasi selanjutnya.

0 komentar:

Poskan Komentar